Showing posts with label Celoteh. Show all posts
Showing posts with label Celoteh. Show all posts

Sunday, August 2, 2009

Seeing is Believing

Every human has restrictiveness, especially when facing many problems in their life. There are many problems that must be faced by them and almost must be contacted with the other person. But there is not rarely that thus problems make the other conflicts. With their restrictiveness, the keys to face thus conflicts are they must have an understanding and believing to the other person.

An understanding can be acquired by spiritual connection among humans. Every humans is given a feel to understanding the other person, but that must be developed from love. So we can understand other person condition because we love and care them. The opposite, when we are nonchalant and hate someone, it is impossible to understand his condition.


The other element to face conflict is a believing. If the understanding is developed from heart, so the believing is developed from eyes. It means that a believing is found from
physic contact or interaction among humans. We will believe in someone if we had seen his loyality. We will also believe in an event if we had seen it with our eyes. It must have the evidence.


We can find those in common life of the people. In the law, someone can be a prisoner if there are witnesses and evidences. It is also in the science. A research can be get a conclusion and believed by public if it had done experiments that the results can be seen (facts), not only feeling or imaginations.


By thus, exactly a believing will complementing the solution to end conflicts. Because of our believing, there are evidences that we can see. Because what we see with our eyes is the true honesty, not as a tongue that can be lied or ears that can be turned.

Tuesday, July 28, 2009

Si Pus Pinteeeeer...!!!


Suatu hari di Wisma Ar Roudloh (wisma tempat aku dan akhwat lain tinggal dan menuntut ilmu di “kota mendoan”), sedang kelimpungan karena ulah si pus (kucing liar yang lagi doyan mondar-mandir di sekitar wisma) yang sangat meresahkan. Sudah beberapa hari itu si pus “pub” di sembarang tempat, dan seringnya tepat di depan wisma. Uniknya itu seperti tempat favoritnya. Ada yang agak k barat, ada juga yang agak timur tapi intinya masih di depan wisma kami. Ditambah lagi meskipun kotorannya udah kami bersihkan tapi dia masih aja “pub” di tempat yang sama. Dan yang jadi sangat meresahkan baunya itu lho…kadang sampe ke tetangga sampe2 mereka ikut sibuk membersihkan juga. Satu lagi yang bikin malu…kalo pas ada tamu kan mereka jadi gak betah..! Padahal udah rajin kita bersihkan…

Pernah suaminya teman datang berkunjung, mereka berttemu di ruang tamu. Waktu itu malam hari dan sepertinya kami belum membersihkan kotoran si pus yang terbaru sore itu (heh,cape deeh..!). Suami temanku terdengar batuk-batuk, sambil “nyletuk” kpd istrinya “bau banget de..” Hehe, maklum aja wisma Ar Roudloh gak ada peredamnya jadi ucapannya itu terdengar jg oleh kami. Kami y jadi ketawa ajah walopun “mandan” maluuu….! Untungnya si istri menjelaskan kronologis sumber bau itu.

Yah itu baru suami temenku yang jadi salah satu “korban”nya. Kami gak begitu memikirkan karena sekalian jadi “senjata” kami biar mereka gak pacaran di wisma yang bikin sebagian akhwat jadi mupeng (hihihi…jahat banged yak?!)

Tapi ada satu yang bikin kami sangat sangaaaaat gak enak! Yaitu kalo pas ta’lim di wisma. Padahal udah pagi2 banget kami beresin tuh kotoran si pus beberapa menit sebelum Ustadz datang dan ta’lim dimulai. Tapi y tetap ajah tu bau masih riang mewarnai ruang tamu kami bahkan sampai ruang dapur yang ada d bagian belakang rumah, meskipun udah dikasih pewangi juga. Akibatnya kami ta’lim sambil tahan napas dikit-dikit…gak enak juga ama Ustadz. Oalah, puuuus…bikin malu ajah si loe..!!!

Akhirnya suatu hari ketika kami sedang kumpul setelah makan-makan di wisma, salah satu kegiatan rutin kami ^_^v…. kami pun membahas masalah pelik itu. Walopun kami bener2 udah buntu harus bgmn solusinya. Perasaan udah kami buang, kami timbun, bahkan kami siram minyak tanah tu bekas kotoran si pus tapi tetep aja dia hobi “pub” d situ… Aku pun dengan saking udah mentoknya gak ada ide, ku bilang “Udah deh, tulisin aja di kaca jendela depan ‘kucing dilarang boker di sini!’ biar si pus tau kalo kita terganggu dengan aktivitas hariannya itu…!” Teman2pun langsung ketawa tapi gak ada yang setuju dan juga menyanggah. Akhirnya “rapat” kali itu tidak membuahkan solusi jitu buat polemic yang sedang kita hadapi….

Beberapa hari setelah hari itu, tetap aja polusi yang si pus buat mewarnai atmosfer wisma dan kegiatan kami sehari-hari.. Dan hari itu, ketika aku pulang dari kampus, aku mendapati salah seorang temanku sibuk sekali di kamarnya sambil mondar-mandir ke luar wisma. Dia tampak sedang ngeprint sesuatu dan menempelkan di kaca jendela wisma kami. Aku pun yang tadinya enjoy aja ngliat kesibukannya akhirnya bertanya juga, “Anti sih lagi ngapain Ukh?” diapun hanya menjawab, “lagi ikhtiar terakhir karena udah pusing gak tau ngapain lagi. Tuh liat aja di depan”. Aku pun nurut menuju ke depan rumah dan melihat di kaca jendela apa yang di temple barusan.

Tampak d kaca sebalah barat dan timur tulisan di kertas ukuran A5 dengan tinta warna-warni tertempel dan berbunyi “MEONG..MEONG..MEONG..!!! (KUCING DILARANG BOKER DISINI…!!!)
Hah…? Saranku dia pake juga rupanya. Aku pun sama karena udah gak tau harus gimana y gak ngasih komentar macem2. Hanya saja mungkin orang2 yang ngliat tulisan itu akan geleng2 kepala juga bingung. “Ini penghuni rumahnya yang oon apa kucingnya yang pinter bisa baca tu tulisan y…?” Heheheh…

Lalu apa yang terjadi??? Alhasil, beberapa hari setelah penempelan kertas itu kami tanpa sadar sudah tidak mencium bau kotoran si pus lagi yang ngganggu jiddan!

Alhamdulillah… manusia hanya bisa berikhtiar lalu bertawakal. Alloh-lah yang menentukannya..!


[Buat kru Roudloh yang masih kompax, keep hamazah en istiqomah!^_^v ; Buat suami temanku yang jadi trauma berkunjung…afwan jiddan yah..hehe]

Saturday, June 20, 2009

Brownies Batu! Olalaaa….


Suatu hari saat liburan semester, karena aku dan adikku yang cewe ngerasa bosen, so kita berinisiatif untuk mengisinya dengan membuat kue. Hmm, aktivitas yang udah lama banget gak kita lakukan, karena kesibukan kita setelah memasuki jenjang perkuliahan dan tentunya “doku” yang suka gak jelas. Ha..ha..!

Dan…kita sepakat untuk membuat kue brownies yang uwenak-karena ada cokelatnya!!!
Lalu kita bagi-bagi tugas untuk menyiapkan segalanya, dari alat-alat sampe bahan-bahannya. Adikku yang menyiapkan alat-alat dan aku yang hunting membeli bahan-bahan di swalayan terdekat.

Dengan semangat 2009 (hehe) aku meluncur menuju swalayan yang paling dekat dengan rumah kami. Alhamdulillah di sana udah lengkap benget keperluan rumah tangga, apa aja tersedia. Lalu setelah mendapatkan semua bahannya aku berhenti di rak yang memajang loyang yang cantik-cantik. Berhubung kami gak punya oven, maka kami beniat membuat brownies kukus aja. Kebetulan Nenek punya dandang (panci besar untuk nanak nasi-pen) yang besar yang biasa dipake memasak ketupat yang banyak waktu labaran. Maka aku pun memilih loyang yang cantik berbentuk persegi panjang yang kira-kira cukup dalam dandang Nenek. Aku sudah membayangkan kue brownies kukus yang manis kaya yang bikin (uups, maaf narsis sedikit ^_^V)

Begitu sampai di rumah, adikku laporan bahwa dandang Nenek yang besar entah kemana “ngumpetnya”, dicari gak ketemu-ketemu. Mixer yang buat ngocok telur juga sama nasibnya. O’ow…firasatku gak enak!

Benar aja, setelah aku ikut mencarinya tetap dua barang itu gak ketemu. Ku cari di tempat biasa sampai yang luar biasa (maklum, setelah kami kuliah banyak posisi barang yang berubah) tetap saja hasilnya nihil. Sampai-sampai Nenek terbangun dari tidur siangnya karena keributan kami, lalu ikut mencari-karena Nenek juga lupa tuh barang ditaro dimana!:-( Hi..hi..hari itu acaranya ganti judul: Tiga Dara Mencari Dandang di Siang Bolong…!

Hari semakin sore, matahari semakin mengufuk ke barat, brownies blum dibikin, badan udah keburu lelah. Matahari yang terik membuat badan ingin memeluk bantal guling. Tapi..! Rencana liburan ini gak boleh gagal hanya karena dandang dan mixer. Ibarat kata pepatah, tak ada akar rotan pun jadi. Tak ada mixer, kocokan telur manual pun jadi. Tak ada dandang besar, dandang kecil pun jadi. Tapi…brarti loyang baru-ku gak jadi dipake dunk (karena gak muat di dandang kecil!) Hiks…. Dan karena gak ada loyang kecil juga, akhirnya kita pake rantang seng deh..he..he..kacian banget ciy…!

Aku dan Adikku mengocok telur bergantian dan mencampur adonannya sambil juga men-tim cokelat dengan penuh perjuangan (soalnya ngocoknya) pake manual siy.. Karena bahan yang udah terlanjur kita beli untuk porsi besar, sedangkan rantangnya imut punya (hehe) so kita bikin dua brownies deh...

Kloter pertama, berjalan mulus. Sambil mengukus kita beres-beres peralatan agar rapi, tapi adikku tiba-tiba kedatangan tamu temannya. Sekitar 1 jam-an rantang sudah siap diangkat dari pengukusan. Alhamdulillah… hasilnya memuaskan, walaupun tempatnya di rantang, tapi rasa tetep enak loh (ehem). Gak sia-sia deh “brownies perjuangan” bikinan kami. Lalu selanjutnya pengukusan kloter kedua…Sambil menunggu pengukusan kedua aku ngrasa badan cape banget. Karena udah gak ada yang dikerjakan maka aku pergi ke kamar untuk nglihat HP-ku barangkali ada sms atau apa… Lalu…

Tiba-tiba aku terbangun dari tidurku di atas spring bed kamarku-yang gak tau udah berapa jam!!!

Lalu…Aku teringat kue brownies-ku..!! Sambil berharap semoga adikku telah membereskannya. Tapi..ternyata temannya belum pulang juga, mereka masih asyik bercengkrama… Lalu…ku lihat dapurku…ada asap mengepul…dari dandang!!!
Oh, brownies-ku…!

Langsung ku angkat brownis-ku dari dandang. O’ow, brownies-ku tak berwarna cokelat gelap, tapi hitam legam…! Ku tusuk dengan garpu, o’ow…boro-boro masuk, nancep sedalam 1 mm aja nggak! Hiks…brownies-ku gosong dan berbentuk batu..!!! Karena terlalu lama ku tinggal sampai kehabisan air...karena aku gak sadar udah tertidur sampai sekitar 1,5 jam. Olalaaa! Bahkan brownies-nya gak bias dikeluarkan dari rantang!

Tapi sobat-sobat sekalian, walopun brownies-ku jadi batu (itupun yang kloter kedua kan..) tetep aja yang hasil kloter pertama layak untuk kalian coba di rumah (hehe, bukannya maksa, tp daripada kalian nyesel…he..) So, coba aja deh.

Bahan:
175 gram dark cooking chocolate, dipotong-potong
100 gram margarin
3 butir telur
250 gram gula pasir
1/4 sendok teh garam
200 gram tepung terigu
20 gram cokelat bubuk
1/4 sendok teh baking powder

Cara Membuat :
1. Tim cokelat masak dan margarin

2. Kocok telur dan gula hingga kental, lalu masukkan cokelat tim

3. Masukkan tepung terigu, cokelat bubuk dan baking powder ke dalam kocokan telur

4. Tuang adonan ke dalam loyang (rantang juga boleh^_^) yang telah diolesi margarin
5. Kukus selama 45 menit - 1 jam.

Selamat menikmati…!

Wednesday, April 22, 2009

Karena Pernikahan Begitu Indah Terdengar


Kemarin baru saja kami menghadiri pernikahan seorang sahabat. Sahabat yang selama ini seiya sekata, senasib sepenanggungan. Sahabat yang selalu menghiasi hari-hari dengan tawa dan juga mewarnai saat-saat dengan lara khususnya di Kota Mendoan ini….


Seminggu sebelumnya kami sudah sibuk mengkoordinir akomodasi dll untuk menghadiri hajatan. Biar gak terlalu nguras dompet (hehe, maklum mahasiswa) kami nyewa mobil untuk satu hari perjalanan plus nginep di rumah teman yang dekat (kebetulan di rumahku yang emang paling dekat dengan rumah sohibul hajat) karena kami ga ingin ketinggalan momen akadnya yang lumayan pagi dan repot kalo ga transit dulu.


Selain itu kami juga sibuk nyiapin kado istimewa untuk pengantin dari para sahabat yang mencintainya karena Alloh. Hehe, “kadonya gede amit”, kata seorang teman yang lain pas hari H. Ya iyalah, masak ya iya donk (???) –namanya jg kado istimewa- Sampe-sampe kita bawanya “gotongan”.


Persiapan sebelum hari H, mulai seminggu sebelumnya benar-benar membuat keriting bulu mata (lho?! Hehe, jadi g perlu k salon ‘n bayar mahal yah). Kita bener2 harus ngatur sedemikian rupa agar biaya sewa mobil, bensin dll ga selangit. So cari massa sebanyak-banyaknya dech.. Berhari-hari ngitungin pengeluaran yang fluktuatif karena banyak massa yang “maju-mundur”, lumayan nguras tenaga jg. Alhasil H-1 puncak-puncaknya mberesin segala urusan aku udah sedikit drop. Tapi Alhamdulillah dengan sedikit perjuangan memicu semangat lagi akupun bias bertahan hingga hajatan selesai. Padahal malamnya harus siap siaga di samping pak supir yang sedang bekerja, mengendalikan mobil supaya baik jalannya (hehe, maklum jalan alternatif menuju rumahku banyak “hambatannya”)… Dan aku memang telah berazzam untuk melakukan yang terbaik yang bisa ku lakukan untuk hari istimewa itu, hari yang kami tunggu-tunggu demi melihat senyum paling indah di wajah sahabatku.


Ya, semua karena pernikahan… Pernikahan yang dinanti setiap insan yang memiliki fitroh yang lurus (coz cuma orang yang gak normal aza yang gak ingin nikah). Namun pernikahan bukan hanya sekedar mewujudkan fitroh manusia yang selalu mendambakan pendamping dalam hidup ini, tapi lebih dari itu menikah adalah ibadah yang diperintahkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya :


“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.An-Nuur : 32).


Nikah juga merupakan perwujudan dari sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam :


“Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu untuk menikah maka menikahlah, karena dengan menikah (engkau) lebih dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya” (HR.Bukhori dan Muslim).


Oleh karena itu menikah dapat bernilai ibadah jika diniatkan ikhlas karena Allah. Karena pernikahan juga merupakan kenikmatan yang besar yang menolong hamba untuk mentaati Robb-nya, menjauhi kemaksiatan dan membantunya untuk menahan pandangan serta memelihara kemaluan.


Subhanalloh... betapa pernikahan begitu indah terdengar. Membuat siapa saja yang mendengar berita bahagia ini terhadap si fulan atau fulanah, pasti akan ikut merasa bahagia (kecuali yang patah hati kali ye?? Hehe..) Seperti yang ku alami kemarin. Beberapa hari sebelum keberangkatan ke tempat resepsi, aku menghubungi ibu tetangga kost yang dulu. Namanya Bu Marmi (50 tahunan), beliau dulu (dan semoga sampai akhir hayat) sangat sayang kepada kami seperti kepada anak kandungnya sendiri, secara juga beliau tidak punya anak putri. Teringat dulu waktu aku sakit radang usus, Ibu Marmi selalu membuatkan bubur untukku… Beliau selalu menangis jika terharu, begitu juga ketika kemarin aku mengabari sahabatku mau menikah dan mengajak beliau turut serta rombongan kami, beliau pun menangis karena bahagia. Bahagia tiada terkira yang terlihat dari bening matanya. Dan untaian doa barokah pun meluncur dengan fasihnya dari bibirnya… Begitu pula teman dan adik kelas yang baru mendengar kabar bahagia ini, pasti wajahnya berubah ceria akibat luapan rasa bahagianya.. Alhamdulillah.


Namun karena begitu indahnya pula tak jarang banyak duri menujunya. Masing-masing orang memiliki ujian sendiri-sendiri dalam melangkah menuju ke pintu gerbang itu. Ada yang sudah berusaha mencari jodoh tapi si pujaan hati tak kunjung tiba, ada yang sudah tiba tapi hati masih berat tuk terikat, ada lagi yang sudah sama-sama cocok dan siap tapi orang tua belum merestui. Ah… bukankah mawar yang indah semakin cantik dengan duri-duri di tangkainya???


Bagaimanapun ujiannya, sesulit apapun rintangannya, tetaplah pada jalan kesabaran dengan berpegang tali ketawakalan. Tetaplah memupuk diri dengan ilmu agar kita layak mendampingi insan terbaik pula. Bukankah Alloh telah berjanji bahwa laki-laki yang baik untuk wanita yang baik dan juga sebaliknya? Dan giatkan pula dengan doa agar Alloh memalingkan hati kita dari keburukan.


“Wahai Robb Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamaMu. Wahai Robb Yang memalingkan hati, palingkanlah hatiku untuk mentaatiMu dan mentaati RosulMu”


Amin.


….Di tengah acara resepsi, salah seorang teman ada yang komentar (dan notabene komentarnya sama ma tiap orang yang kuberi kabar pernikahan sahabatku), “Vina kapan nih nyusul??”



Hemm, kapan yah…??


Allohua’lam bis showab